Tuesday, February 17, 2015

A Quarter Life





It was scary at first, the thought on becoming 25. That strange feelings on eagerly embracing quarter part of my life. I learned that "wandering" and "relocating" are two very different things, and that one takes significantly more precious energy than the other. I also have learned lessons in love and patience, and been rewarded for both a trillion times over. Oh yes... life is such a beauty in the messiness and vice-maddeningly-versa. 




Can't wait for another quarter life,







with  hug,
Indah Budi Utari

Saturday, January 17, 2015

to feel Homey




Setiap manusia,
(walaupun hanya sekali)
 setidaknya harus pernah merasakan merantau. 



Perantauan saya yang pertama adalah saat memasuki dunia kuliah. Saya menyewa sebuah kamar mungil tak jauh dari kampus. Kamar mungil ini (atau sebut saja kost'an), sangat jauh dari kesan mewah; tanpa Air Conditioning system, tanpa water heater gas, bahkan shared bathroom. Tumpukan tugas kuliah yang memaksa diri untuk jarang pulang, membuat saya harus memutar otak bagaimana caranya "to make my room feel homey" -dengan budget yang terbatas tentunya. 


,dan 5 cara ini setidaknya cukup berguna


Play with colours and texture
Pemilihan warna dinding ruangan yang tepat akan mempengaruhi atmosfer kenyamanan. Be smart, choose comfort over style. Pilihlah warna-warna pucat yang lembut, sehingga dapat merefleksikan cahaya dan membuat ruangan tampak lebih luas. Butter yellow, pale gold, soft peach, dan dusty rose adalah warna terang yang dapat digunakan; sedangkan chocolate brown, brick red, terra cotta, dan eggplant adalah contoh pilihan untuk warna yang lebih gelap.

Kick up a neutral palette with texture. Tekstur di sini dapat berupa kain, aksen furniture, ataupun kombinasi material lain (misalnya; washi tape). Fabric and washi tape do wonders. Trust me.


My Room



Add personalized artwork
Add personal touches throughout your room with artwork. Whether you create it yourself or buy from a local artist. I’m personally love to do some upgrading with DIY project. Starting from made a bracelet holder from used bottle, til' a molecule wall art from washi tape. Akan tetapi, tidak semua manusia terlahir dengan tangan yang crafty bukan?, maka membeli karya seni adalah solusinya. Karya seni dengan harga paling terjangkau adalah dalam bentuk kartu pos!  Ya, kartu pos. Mereka bisa menjadi hiasan ruangan yang baik, entah itu dengan cara di pigura ataupun langsung ditempel begitu saja…


Andy Warhol and Ika Vantiani Postcard


Invest in bedding and lightning
Since it’s the space you’ll spend the most time curl up in, it makes sense to spend a little more on bedding and lightning. Sprei dan bedcover adalah dua barang yang tidak bisa dipilih dengan sembrangan. Sebaiknya, gunakan kain katun atau linen. Lebih mahal tak mengapa, yang penting nyaman. Sedangkan untuk lightning, maka lampu fluorescent (lampu TL) dapat dijadikan pilihan. Lampu ini lebih hemat energi dibandingkan lampu pijar. Selain itu, lampu fluorescent yang baik (merk bagus), bisa bertahan hingga 15.000 jam atau setara dengan 10 tahun pemakaian.


Warm it up with nature elements and vintage stuff
Budget yang terbatas bukanlah suatu hambatan. Sering-seringlah mampir ke pasar loak, toko barang bekas, ataupun acara garage sale. Banyak barang-barang ajaib yang murah meriah. One man's junk is another man's treasure! Sering-seringlah berjalan kaki lambat-lambat. Perhatikan sekitar. Pasti ada bunga-bunga kecil manis ataupun ranting patah yang menawan. Instead of purchasing artificial branches or highly cost arrangement, they can be a perfect tabletop vignette.


A Test Tube Rack from Flea Market


Make your bed every (!) day (!)
I know. It is easy to say, but damn hard to do. 






with  hug,
Indah Budi Utari

Wednesday, December 24, 2014

A List




I’ve been making a list of the things they don’t teach you at school. They don’t teach you how to love somebody. They don’t teach you how to be famous. They don’t teach you how to be rich or how to be poor. They don’t teach you how to walk away from someone you don’t love any longer. They don’t teach you how to know what’s going on in someone else’s mind. They don’t teach you what to say to someone who’s dying. They don’t teach you anything worth knowing. ~Neil Gaiman, The Sandman, Vol. 9: The Kindly Ones






with  hug,
Indah Budi Utari

Wednesday, August 27, 2014

Die-cuts Books



Every pages is an ecstasy that take you to another world



Die-cutting 
dapat didefinisikan secara sederhana sebagai tehnik proses cetak untuk memotong bentuk tertentu pada suatu material. Dalam konteks buku, tehnik ini memungkinkan diciptakannya sebuah "jendela" pada bagian sampul ataupun lembaran buku. Die-cuts books is a perfect mix of oh..., of course..., and oh... I never. 

Seperti die-cuts book yang satu ini. 



Love
Story by Lowell A. Siff

Love adalah buku reprint identik dari sebuah karya klasik di tahun 1964. Tangan dingin dari Gian Berto Vanni -lah yang menyebabkan buku ini menjadi layak untuk dikategorikan sebagai sebuah harta karun. Love bercerita tentang seorang gadis kecil yang menjadi yatim piatu akibat perceraian. Tema cerita yang sederhana bukan? Akan tetapi penggunaan illustrasi, tehnik die-cutting, dan lembaran kertas warna-warni dari buku ini dipastikan akan memabukkan siapa pun yang membacanya. Just like an ecstasy. 



Illustrated and Designed by Gian Berto Vanni

Cerita tentang si gadis kecil mengalir dengan indah melalui lubang dan guratan berbagai bentuk dalam setiap lembaran buku. Bayangkan, setiap lembaran buku! I can not imagine how to engineered the peeks and surprises of the books. It's brilliant. Menyulam cerita melalui kata tidaklah mudah, apalagi melalui lubang dan guratan. 










What is so wonderfull about die-cutting is how such a simple story can be elevated to greater levels through the process of design






with  hug,
Indah Budi Utari

Sunday, August 10, 2014

Tentang pilihan 





Banyak yang bilang, hidup ini sebenarnya perkara pilihan. Tentu sudah tak terhitung lagi, berapa banyak moment dimana kita dihadapkan dalam kondisi "harus memilih". Entah itu dalam keriaan, kesedihan, kebingungan, ataupun ketidakberdayaan. Mampu memilih merupakan suatu kemewahan. Sangat mewah bahkan. Mengapa? karena tak semua hal bisa di pilih. Kita tokh tetap tidak bisa memilih kapan akan menghadapi kematian, kapan akan dilahirkan, dan kapan akan berjumpa dengan mereka-mereka yang disebut sebagai sigaraning nyawa.  

Bagi saya, usia 20'an adalah periode selfish years. Periode egois. Because we are old enough to make the right desicion and young enough to make the wrong one. Tidak munafik, berkali-kali saya mengambil pilihan secara egois. Namun pada akhirnya pengalaman "merasa" yang saya alami menjadi semakin kaya dan semakin banyak pula pelajaran konsekuensi yang dapat saya pahami. Sesekali kita memang harus jatuh, biar tahu bagaimana rasanya sakit. 

Akhir tahun lalu, saya mendapat kesempatan bertemu dengan seorang pria yang sangat istimewa. Saya memanggilnya Mr. Sujinda. Beliau adalah supervisor laboratorium saya selama kegiatan pertukaran pelajar di Universitas Mahidol, Thailand. Hari-hari bersama Mr. Sujinda penuh dengan kejutan dan diskusi. Dalam setiap kesempatan diskusi, beliau mampu membentangkan sudut pandang pemikiran dan kesadaran baru serta membangunkan kepekaan yang sudah lama tertidur. Pada saat hari terakhir berdiskusi, Mr. Sujinda memberikan saya kemewahan. Ya, beliau memberikan saya pilihan. 


". . . and now, I want you to make a list about -what are you looking in life?"

"Based on these . . .

ujarnya sambil menuliskan beberapa kata.




Saya pun kemudian tenggelam dalam perenungan dan pertimbangan selama beberapa saat. Setelah selesai memilih dan mengurutkan kedelapan hal tersebut, akhirnya saya siap mendiskusikannya. Akan tetapi Mr. Sujinda dengan segera berkata, I don’t want to know about your list, but you must remember; Do not ever complain about your decision!". Saya pun di buat tertegun dengan closure tersebut. Bagaimana beliau mampu memberikan oleh-oleh yang sangat berarti bagi saya. Oleh-oleh berharga sebagai pengingat di kala diri sedang egois. 





". . . and now, how about you?"

 "what are you looking in life?"






with  hug,
Indah Budi Utari

Tuesday, July 1, 2014

Terus Terang Saja



apakah aku ini tepung terigu atau gumpalan kapas 
atau cabe busuk yan merosot harganya sehingga harus ditolong
atau kayu gelondongan bahan baku plywood kualitas ekspor 
dari hutan-hutan
yang kini botak
karena HPH dan gergaji mesin pembangunan keadilan berkemakmuran
dan kemakmuran berkeadilan


siapakah aku ini
kaki kursikah
atau botol kosong
atau rakyak lebak yang harus bekerja bakti mencabuti rumput halaman kadipaten
karena tuan pejabat gubernurmen mau lewat
apakah aku ini rakyat yang berdebar-debar di sekitar hari proklamasi
menyimak pidato soekarno
apakah aku ini si bagero  yang sudah merdeka?
ataukah tetap jugun ianfu yang tak henti - henti diperkosa perusahaan multinasional
yang menuntut kenaikan upah
ditangkap
dan dijebloskan 
ke dalam penjara?

apakah aku ini cuma angka - angka
yang menarik untuk bahan disertasi 
dan meraih gelar doktor
yang tidak berotak
tidak bermulut
yang secara rutin dilaporkan kepada bank dunia
sebagai jaminan utang
dan landasan
tinggal landas?


sekarang demokrasi sudah 100%

bulat
tanpa debat
tapi aku belum menjadi sejati
karena aku dibungkam oleh demokrasi 100%
yang tidak bisa salah


namun aku sangsi

karena kemelaratan belum dilumpuhkan
aku sangsi pada yang 100% benar
terus terang saja!








Wiji Thukul,
2 Oktober 96'



Monday, March 31, 2014

Lupa



The ability to remember the past is a two-sided coin




Seorang teman lama menanyakan kepada saya mengenai suatu tempat di bagian utara kota. Ia tahu bahwa selama menahun yang lalu, saya cukup sering mengunjungi tempat tersebut. Ternyata . . . saya hanya bisa mendeskripsikan tempat itu dalam dua kalimat saja. Selebihnya?                                                                                         
Saya lupa. 

Ingatan akan tempat itu tidak lagi utuh. Jangankan arah menuju tempat tersebut, nama tempatnya pun saya lupa. Ibaratnya seperti tulisan koran yang terkena tetesan hujan. Buram. Mendadak berbagai pertanyaan muncul di kepala. Apa itu lupa? Mengapa saya bisa lupa sesuatu yang sebenarnya masih ingin saya ingat?  Apakah semua ini terkait dengan saya yang pelupa? Atau memang saya memilih untuk lupa? dengan kata lain, melupakan




Forgetting is the inability to recall something now, that could be recalled on earlier occasion [1]. Poin utama dari definisi tersebut adalah "ketidakmampuan untuk mengingat". Ingatan atau memori sebenarnya sudah menjadi objek ketertarikan para ilmuan sejak beberapa ratus tahun yang lalu. Koriat dan Goldsmith memiliki dua pendapat terkait deskripsi dari ingatan, yaitu berupa storehouse metaphor dan correspondence metaphor [2]. Jika di pandang sebagai storehouse metaphor, ingatan adalah sebuah gudang yang berisi berbagai item tersimpan. Fokus dari storehouse metaphor adalah kuantitas item yang dapat di simpan. Sedangkan correspondence metaphor memandang ingatan sebagai deskripsi dari masa lalu, dengan fokus pada akurasi deskripsi dari masa lalu tersebut. Terlepas dari metafor mana yang akan anda anut, ingatan itu bersifat cue-dependent. Artinya kemampuan untuk mengingat sangat ditentukan oleh sinyal-sinyal atau tanda-tanda tertentu yang dapat kita gunakan untuk mengakses ingatan.

Lupa pada dasarnya merupakan suatu mekanisme alami. Bayangkan jika kita masih mengingat dengan jelas setiap detail dari berbagai peristiwa. Oh tentu hidup ini akan menjadi tidak nyaman! Ada lima jenis mekanisme lupa, berupa failure to encode, disrupted consolidation, retrieval competition, resolving retrieval competition, dan ineffective retrieval cues [3]. Prinsip utama dari seluruh mekanisme tersebut yaitu "adanya interferensi yang mengganggu proses penyusunan suatu ingatan". Interferensi ini dapat berupa berbagai macam hal, mulai dari jeda waktu antar informasi hingga sinyal pengakses ingatan yang terfragmentasi.

Otak adalah organ yang mengorganisir mekanisme lupa. Saya tidak dapat membayangkan kompleksitas dari kerja otak, dimana ia tidak boleh keliru dalam menentukan ingatan mana yang harus di simpan dan mana yang sebaiknya di buang. Studi terbaru yang dilakukan oleh Benoit dan Anderson menyatakan bahwa otak memiliki dua mekanisme untuk melupakan suatu ingatan di masa lalu yang bersifat traumatic, unwanted, atau undesirable yaitu melalui direct suppression dan thought substitution [4].

Pada mekanisme direct suppression, otak akan menghambat proses mengingat yang terjadi pada daerah hippocampus. Daerah tersebut sangat berperan dalam pembentukan ingatan secara sadar (conscious memories). Interferensi pada daerah hippocampus akan menghambat ingatan untuk di simpan. Sedangkan pada mekanisme thought substitution, otak akan mengganti ingatan buruk yang ingin dilupakan dengan sesuatu yang lain. . . . mengagumkan sekali bukan?




Tanpa disadari, saya sesungguhnya telah mempraktikkan mekanisme thought substitution sejak lama. Ya, bahkan jauh sebelum artikel studi neuron terbaru itu terbit. Saya terbiasa mensubstitusi ingatan buruk yang ingin dilupakan. Saya mengganti ingatan buruk dengan ingatan baik, atau menggantinya dengan keadaan saat ini. Keadaan bahwa saya baik-baik saja. Keadaan bahwa saya bisa bertahan melalui hal-hal buruk yang pernah terjadi. Kunci terpenting dari semuanya adalah proses menerima. Kita harus menerima bahwa "perpisahan itu tidak terelakkan", baik itu disebabkan oleh kematian, emosi sempit, ataupun tuntutan takaran ideal secara normatif. Kita harus menerima bahwa hal-hal buruk bisa saja terjadi untuk membentuk kepribadian yang lebih kuat. Ya, menerima adalah kuncinya.

Masalah seberapa buram ingatan akan masa lalu yang tersisa di otak, kita tetap tidak bisa mengatur. Buktinya, saya tetap saja lupa akan tempat di utara kota. Padahal saya masih ingin menyimpan informasi tersebut, tokh ia tidak termasuk dalam jenis ingatan buruk. Namun tidak dapat dipungkiri, ia berada di periode hidup yang ingin saya lupakan. Periode hidup yang banyak saya substitusi.
Nampaknya sinyal-sinyal pengakses ingatan akan tempat tersebut ikut terganggu, karena tumpang tindih dengan mekanisme melupakan
dan pada akhirnya, saya pun lupa akan tempat di utara kota.
dan saya bersyukur sudah lupa. 



Referensi:
[1] Tulving, E. (1974). Cue-dependent forgetting. American Scientist (62), 74-‐82.
[2] Koriat, A., and Goldsmith, M. (2000). Toward psychology of memory accuracy. Annual Review of Psychology (51), 481-­537.
[3] Levy, B. and Kuhl, B. (2010). The functional neuroimaging of forgetting. In Gronlund, S. and Kimball, D. (2012). Remembering and Forgetting: From the Laboratory Looking Out. University of Oklahoma Press.
[4] Benoit, R. and Anderson, M. (2012). Opposing Mechanisms Support the Voluntary Forgetting of Unwanted Memories. Neuron (76), 450-460. 







The past allows us to relive cherished episodes 
but also confronts us with past events that we would rather forget.








with  hug,
Indah Budi Utari